Rabu, 22 April 2009

Cara-Cara yang Efektif dalam Mengorganisasi dan Mengurutkan Proses Pembelajaran bagi Anak Usia Dini

Setiap anak memiliki fitrah Islam dan dipersiapkan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ingatlah ketikaTuhanmu berfirman kepada para malaikat: “ Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi... “ (Qs. Al-Baqarah : 30 ). Untuk itu anak harus diberi pendidikan agar dapat mempersiapkan dirinya, mempeljari, dan memanfaatkan sarana dan prasarana yang telah dianugrahkan Allah SWT kepadanya.

Memberikan pendidikan pada anak usia dini atau anak usia 0 - 8 tahun, telah menjadi perhatian para orang tua, ahli pendidikan, masyarakat dan pemerintah. Anak usia dini (AUD) merupakan kelompok yang berada dalam proses perkembangan unik. Karena proses perkembangannya (tumbuh dan kembang) terjadi bersamaan dengan golden age (masa peka). Golden age merupakan waktu paling tepat untuk memberikan bekal yang kuat kepada anak. Pada masa itu anak melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik kasar dan halus), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi (Kecerdasan Jamak). Di masa peka, kecepatan pertumbuhan otak anak sangat tinggi hingga mencapai 50 persen dari keseluruhan perkembangan otak anak selama hidupnya. Artinya, golden age merupakan masa yang sangat tepat untuk menggali segala potensi kecerdasan anak sebanyaknya.

Piaget (Forman, 1983) menyarankan agar aspek kognitif, moral dan fisiologis dirangsang pengembangannya secara terpadu dalam aktivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam mengorganisiasi dan mengurutkan proses pembelajaran anak usia dini yang efektif, harus sesuai dengan perkembangannya yang diselaraskan dengan aspek ilahiyah.

Pertumbuhan dan perkembangan AUD perlu diarahkan pada peletakan (dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya. Dengan demikian anak dapat berkembang optimal. Sedangkan makna PAUD bukan semata agar anak dapat bersekolah lalu mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, tetapi lebih luas dari itu. Anak menjadi tumbuh dan berkembang lebih sempurna bila mendapatkan pendidikan paripurna (komprehensif) antara kecerdasan spiritual, Intelektual dan emosional.

Untuk dapat memberikan pendidikan yang paripurna, berikut ini penjelasan yang dapat kami berikan berkenaan dengan cara-cara yang efektif dalam mengorganisasi dan mengurutkan proses pembelajaran bagi anak usia dini yang dianalisis melalui perkembanan anak pada rentang usia 0-3 tahun. Mudah-mudahan apa yang kami bahas dan kami sampaikan dapat memberikan gambaran kepada khalayak ramai yang peduli kepada tumbuh kembang anak melalui website Bunyan ini.

Aspek-aspek Perkembangan Fisiologis Anak Usia Dini 0 Sampai 3 Tahun

1. Perkembangan Otak dan susunan syaraf Pusat

Pada waktu dilahirkan, bayi hanya memiliki otak seberat 25% dari berat otak orang dewasa. Syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syaraf belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya dalam mengkontrof gerakan motorik. Artinya, bayi belum dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi sistem syaraf, seperti kegiatan motorik halus (fine motoric) maupun keterampilan motorik kasar (gross motoric). Oleh karena itu, aktivitas bayi bersifat pasif yakni memerlukan rangsangan (stimulasi) dari luar dan biasanya is selalu berada di seputar tempat tidurnya.

Kemudian Pada tahun pertama dan kedua setelah kelahiran, otak terus berkembang. Pada usia 3 – 4 tahun, berat otak anak telah mencapai 75% dari berat otak orang dewasa. Pada tahun berikutnya, berat otak anak mencapai 90% dari berat orang dewasa. Dan susunan syaraf pusat berkembang sejalan dengan perubahan berat otak tersebut. Perkembangan ini berjalan sampai usia 12 tahun.

Seiring dengan perkembangan fisik dan usia anak, syaraf-syaraf yang berfungsi mengontrol gerakan motorik mengalami proses neurological maturation (kematangan neurologic). Kematangan secara neurologic ini merupakan hal yang penting dan berpengaruh dalam mengontrol gerakan motoriknya.

2. Perkembangan tubuh

Perkembangan tubuh merupakan perkembangan yang berjalan sesuai dengan prinsip yang disebut cephalocaudal, yaitu prinsip perkembangan yang dimulai dari atas, yaitu kepala, dan berlanjut secara teratur ke bagian bawah tubuh. Contohnya ialah pada bagian wilayah atas kepala yaitu mata dan otak berkembang lebih pesat dibandingkan dengan bagian bawah seperti rahang.

Serta prinsip Proximodistal, yaitu urutan pertumbuhan di mana pertumbuhan dimulai pada bagian tengah tubuh lalu bergerak menuju kaki dan tangan. Contohnya ialah bahwa kematangan awal kendali otot diawali oleh batang tubuh dan lengan baru tangan dan jari

Pada usia dua bulan dalam kandungan, kepala bayi berukuran setengah dari seluruh ukuran tubuhnya. Pada waktu dilahirkan, kepala bayi berukuran seperempat dari seluruh ukuran tubuhnya. Selanjutnya, pada usia 2 – 5 tahun kepala anak hanya berukuran seperlima dari ukuran tubuhnya, dan pada usia 6 tahun kepala anak memiliki ukuran sepertujuh dari ukuran tubuhnya. Pada usia inilah anak telah memiliki proporsi tubuh yang akan mewamai proporsi tubuhnya di masa dewasa.

Secara normal, pertambahan tinggi badan selama masa kana-kanak hanya sebanyak 2,5 inchi setahun dan berat badan secara normal hanya bertambah 2,5 – 3,5 kilogram setahun.

3. Perkembangan Psikomotorik

Otak merupakan pusat syaraf yang berfungsi untuk melakukan koordinasi gerakan organ-organ fisik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada awalnya, fungsi otak bayi belum mampu menjalankan gerakan sadar. Sebagian besar gerakan – gerakan dan aktivitas bayi dipengaruhi oleh sistem syaraf otonom yang bersifat reflektif artinya gerakan itu terjadi tanpa koordinasi syaraf pusat yang disadari. Berikut macam-macam gerakan refleks yang dilakukan bayi:

a. Refleks Permenen, yaitu gerakan-gerakan refleks yang muncul sejak bayi dan akan tetap ada selama individu tumbuh kembang – menjadi dewasa. Ada tujuh refleks permanen yaitu (1) kedipan mata, (2) pernapasan,(3) sentakan kaki, (4) gerakan biji mata, (5) batuk, (6) bersin, (7) menelan.

b. Refleks Sementera, yaitu gerakan refleks yang terjadi pada masa bayi dan akan hilang dengan sendirinya, beberapa bulan atau setahun sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Ada sembilan refleks sementara yaitu (1) babinski. (2) memegang, (3) moro, (4) mencari, (5) melangkah, (6) mengisap, (7) berenang, (8) dan tonick neck.

Tabel 1. Refleks Sementara Pada Bayi

Refleks

Srimulasi

Respon Bayi

Pola Perkembangan

Babinski

Telapak kaki diusap

Menyebarkan jari kaki, memutar-mutarkan kaki

Menghilang setelah 9 bulan-1 tahun

Memegang

Telapak tangan diusap

Memegang dengan kuat

Melemah setelah 3 bln dan menghilang setelah 1 tahun

Moro (mengejutkan)

Stimulasi tiba-tiba, seperti mendengar suara nyaring atau diturunkan

Kaget, melengkungkan punggung, melemparkan kepala ke belakang, merentangkan lengan dan kaki serta kemudian menutupkannya ke pusat tubuh

Menghilang setelah 3-4 bulan

Mencari

Leher atau pinggir mulut diusap

membalikkan kepala, membuka mulut, mulai mengisap

Menghilang setelah 3-4 bulan

Melangkah

Bayi diangkat dan diturunkan untuk menyentuh tanah

menggerakkan kaki seolah-olah berjalan

Menghilang setelah 3-4 bulan

Mengisap

Benda menyentuh mulut

respon bayi mengisap secara otomatis

Menghilang setelah 3-4 bulan

Berenang

bayi menaruh wajah ke bawah di dalam air

membuat gerakan-gerakan berenang yang terkoordinasi

Menghilang setelah 6-7 bulan

Leher di topang

bayi ditelentangkan,

mengepalkan tinju kedua tangan dan biasanya membalikkan kepala ke kanan

Menghilang setelah 2 bulan

Walaupun belum mampu melakukan gerakan koordinatif, namun gerakan refleks pada dasarnya memerlukan pemfungsian organ-organ fisik bayi. Organ –organ fisik yang digerakkan secara terus – menerus merupakan sarana pelatihan untuk memperkuat otot – otot, sehingga dapat dijadikan persiapan diri guna melakukan akiivitas yang lebih berkualitas. Pada dasarnya, Gerakan refleks merupakan dasar yang akan memacu perkembangan keterampilan motorik kasar maupun halus.

Implikasi Perkembangan Fisiologis dalam Proses Pembelajaran

1. Melakukan rangsangan – rangsangan positif yang dapat mengembangkan kecerdasan maupun keberbakatan anak sejak dini. Sifat stimulasi yang diberikan kepada anak sebaiknya yang bersifat menarik, menyenangkan, dan sederhana. misalnya: benda yang berwarna-warni, bentuknva lucu, dan indah,

2. Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan (gradasi tingkat kemampuan).

3. Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba.


Sumber: http://bunyan.co.id/new/?m=article&id=1237273747

Tidak ada komentar:

Posting Komentar