Tampilkan postingan dengan label 1.7.Pendidikan Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1.7.Pendidikan Anak Usia Dini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Mei 2009

Investasi Pengembangan PAUD Ditingkatkan

Investasi pengembangan anak usia dini merupakan investasi penting untuk menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Untuk itu, pemerintah berkomitmen meningkatkan layanan pendidikan anak usia dini atau PAUD hingga ke seluruh pelosok Tanah Air.

"Pendidikan anak usia dini sekarang ini terus tumbuh karena masyarakat sudah sadar pentingnya PAUD. Perhatian dan dukungan dari pemerintah juga akan terus diperkuat hingga ke lembaga PAUD di tingkat desa," kata Sujarwo Singowidjojo, Direktur PAUD Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, Selasa (25/11).

Guna menelaah peran dan kontribusi PAUD dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan nasional, penyelenggaraan PAUD, serta strategi pengembangan PAUD secara holistik dan terpadu, pemerintah bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) menggelar seminar dan lokakarya PAUD pada 26-27 November. Acara dihadiri sekitar 500 ornag dari pemerintah, dinas pendidikan, pemerhati PAUD, dan masyarakat.

Pendidikan anak usia 0-6 tahun ini dinilai sebagai strategi pembangunan sumber daya manusia yang fundamental dan strategis. Sebab, anak-anak ini berada dalam masa keemasan, sekaligus periode kritis dalam tahap perkembangan manusia.

Hasil penelitian mengungkapkan, anak hingga usia empat tahun tingkat kapabilitas kecerdasan anak telah mencapai 50 persen. Pada usia delapan tahun mencapai 80 persen, dan sisanya sekitar 20 persen diperoleh sat anak berusia delapan tahun ke atas.

Menurut Sujarwo, lembaga PAUD nonformal, terutama untuk melayani anak-anak tidak mampu dan di pedesaan, terus meningkat. Saat ini ada 48.132 lembaga PAUD nonformal dengan 188.834 tutor. Pada 2009, pemerintah mengajukan anggaran untuk insentif tutor PAUD senilai Rp 1,2 juta per tahun bagi sekitar 50.000 tutor.

Hartoyo, Ketua Departemen Fakultas Ekologi Manusia IPB, mengatakan penyelenggaraan PAUD bukan berfokus untuk mengasah kemampuan intelektual saja, tetapi yang penting pembentukan karakter. "Jika sejak dini anak diajarkan untuk punya karakter baik, ketika dewasa diharapkan karakter itu bisa melekat dan menghasilkan anak-anak yang punya kepribadian dan moral baik," kata Hartoyo.



Sumber: http://regional.kompas.com/read/xml/2008/11/25/20001679/investasi.pengembangan.paud.ditingkatkan

850 Guru Ikuti Senam Massal PAUD Ceria

Sekitar 850 ibu-ibu guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Lamongan, Kamis (23/4), memeragakan senam massal PAUD Ceria dan lomba senam PAUD Ceria.

Lomba Senam PAUD Ceria di Lamongan dinilai tiga juri pencipta Senam PAUD Ceria, yakni Putut Purnawirawan, Yuniar Ari Riswati, dan Tirta Buringsih. Lomba tersebut diikuti perwakilan guru PAUD dari 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan, di mana setiap kecamatan mengirimkan enam perwakilan.

Senam PAUD Ceria secara spesifik diperuntukkan bagi anak usia dini. Kepala Seksi Pendidikan Luar Sekolah Dinas Pendidikan Lamongan Arif Supono menyatakan, gerakan senam dibuat sederhana secara teknik tetapi tetap menyehatkan. Gerakan senam disisipi gerakan unsur fun (menyenangkan) dengan gerakan seperti berenang. Dalam iringan musik untuk senam itu disertai lantunan syair sebagai petunjuk masing-masing gerakan.

Kepala Seksi PAUD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur Puji Astuti menyatakan, kegiatan senam massal PAUD Ceria yang digelar Dinas Pendidikan Lamongan akan dijadikan referensi karena berhasil mengumpulkan hampir 1.000 guru PAUD dalam senam massal.

"Ini sangat bagus sebagai pemicu semangat bagi para pendidik dalam menjalankan tugas mulianya. Senam massal sekaligus sebagai satu bentuk publikasi pada masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini," kata Puji.

Menurut Puji, di masa lalu ada banyak anggapan pendidikan anak usia dini tidak terlalu penting, tetapi sekarang pendidikan pada anak usia dini sudah tidak bisa lagi dikesampingkan. Pendidikan ketika anak berada di usia dini sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak, baik pendidikan maupun kesehatannya.

"Di usia dinilah masa-masa keemasan perkembangan anak. Saya percaya ibu-ibu guru PAUD mampu menjalankan amanat ini, karena guru PAUD adalah ibu bagi anak-anak masa depan Indonesia," tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Mustofa Nur menambahkan, suatu bangsa hanya bisa maju jika didukung sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Anak-anak yang berada di lembaga PAUD nanti akan menjadi SDM penentu kemajuan bangsa. "Di sinilah peran penting guru PAUD sebagai penentu kualitas SDM bangsa ini," ujarnya.


Sumber: http://regional.kompas.com/read/xml/2009/04/23/16072489/850.Guru.Ikuti.Senam.Massal.PAUD.Ceria.

Kurikulum untuk Anak Usia Dini

Kurikulum untuk anak usia dini, perlukah?

Anak-anak usia dini hidup dalam dunia bermain. Meskipun demikian,tak ada salahnya jika orang tua memiliki rancangan bahan atau materi untuk mengisi hari-hari mereka. Hal yang pasti, kurikulum untuk anak usia dini haruslah sangat fleksibel, sesuai dengan kemampuan dan minat anak.

Kelas-kelas prasekolah seperti Play Group (PG) atau Taman Kanak-Kanak (TK) pasti memiliki kurikulum dan target-target, namun karena tuntutan aturan formal, mau tidak mau guru akan menilai perkembangan anak secara kasar, berdasarkan akumulasi kemampuan yang dikuasai anak selama kurun waktu tertentu. Jelas penilaian itu tidak valid, karena ketika guru memasuki kurikulum mewarnai misalnya, beberapa anak mungkin belum siap dengan fase itu. Mereka mungkin menolak untuk melakukannya atau hanya membubuhkan satu coretan pendek di kertasnya, karena dia memang belum berminat.

Di sinilah peran orang tua sangat dibutuhkan. Tak peduli apakah anak-anak masuk TK ataupun tidak, tugas orang tua-lah untuk memahami anak-anaknya dengan baik, sehingga tahu kapan harus memperkenalkan sebuah keterampilan, kapan harus menundanya, kapan harus memacunya lebih kencang, dan bagaimana membuat anak menjadi tertarik untuk mempelajari sesuatu tanpa harus dipaksa oleh waktu dan penilaian pihak lain.

Pendidikan sungguh jauh melampaui batas-batas nilai kuantitatif seperti diterapkan di sekolah. Pendidikan adalah rangkaian proses belajar untuk menjadi manusia yang terus tumbuh, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Menyusun kurikulum untuk anak usia dini berarti siap mengikuti irama mereka dan siap untuk melangkah lebih jauh saat mereka berminat untuk tahu lebih banyak. Ketika anak-anak diperkenalkan tentang kuda misalnya, bisa jadi rasa ingin tahu mereka berkembang, ingin tahu tentang makanannya, di mana tidurnya, dan mungkin ingin mencoba menaikinya dan mengoleksi gambar-gambarnya.

Adapun secara terstruktur, ada banyak model kurikulum anak usia dini yang telah dikembangkan di dunia. Kurikulum Montessori adalah salah satu di antaranya. Model ini cocok bagi mereka yang senang dengan keteraturan dan mengharapkan anak-anak juga bersikap teratur dan runut. Sebuah buku berjudul Montessori untuk Prasekolah yang disusun oleh seorang praktisi kurikulum Montessori bernama Elizabeth G. Hainstock dan diterbitkan edisi terjemahannya oleh penerbit Delapratasa Publishing, bisa menjadi pilihan untuk mengetahui lebih detail kegiatan-kegiatan ala Montessori.

Melalui buku tersebut akan kita temukan bahwa model Montessori lebih banyak mempergunakan perabotan rumah tangga sebagai media dan mempergunakan kegiatan rutin sehari-hari di rumah sebagai aktivitas belajar.

Temuan tentang multi kecerdasan oleh Howard Gardner juga bisa menginspirasi kita untuk menyusun kurikulum. Delapan bahkan sembilan jenis kecerdasan versi Gardner, yaitu: kecerdasan bahasa, logika-matematika, visual-spasial, fisik, interpersonal, intrapersonal, musikal, natural, dan spiritual bisa dijadikan acuan untuk memilih ragam kegiatan belajar-bermain di rumah.

Buku yang ditulis Thomas Amstrong berjudul Sekolah Para Juara mencoba menjabarkan konsep multi kecerdasan tersebut dalam konteks sekolah formal untuk anak-anak yang lebih besar. Namun bukan tidak mungkin hal itu bisa menginspirasi para orang tua yang memiliki anak usia dini untuk menerapkan jalan pikiran Amstrong ke dalam konteks belajar anak usia dini di rumah.

Kurikulum berdasarkan Perkembangan Anak
Perkembangan anak secara umum ternyata bisa diukur dengan beberapa ukuran berikut: perkembangan fisik motorik, perkembangan kognitif, perkembangan moral & sosial, emosional, dan komunikasi (Slamet Suyanto, Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini:192. Penerbit: Hikayat Publishing. Yogyakarta)

Kita bisa menciptakan kurikulum dengan mengacu pada teori tersebut. Berikut gambaran kasar kurikulum yang mungkin diterapkan:

Perkembangan fisik motorik
- Motorik Kasar: Berlari, memanjat, menendang bola, menangkap
bola, bermain lompat tali, berjalan pada titian keseimbangan, dll.

- Motorik Halus: Mewarnai pola, makan dengan sendok, mengancingkan baju, menarik resluiting, menggunting pola,menyisir rambut, mengikat tali sepatu, menjahit dengan alat jahit tiruan, dll.

- Organ Sensoris:Membedakan berbagai macam rasa, mengenali berbagai macam bau, mengenali berbagai macam warna benda, mengenali berbagai benda dari ciri-ciri fisiknya, mampu membedakan berbagai macam bentuk, dll.

Perkembangan Kognitif

Misalnya: mengenal nama-nama warna,mengenal nama bagian-bagian tubuh, mengenal nama anggota keluarga,mampu membandingkan dua objek atau lebih, menghitung, menata, mengurutkan; mengetahui nama-nama hari dan bulan; mengetahui perbedaan waktu pagi, siang, atau malam; mengetahui perbedaan kecepatan (lambat dan cepat); mengetahui perbedaan tinggi dan rendah, besar dan kecil, panjang dan pendek; mengenal nama-nama huruf alfabet atau membaca kata; memahami kuantitas benda, dll.

Perkembangan Moral dan sosial
Misalnya: Mengetahui sopan santun, mengetahui aturan-aturan dalam keluarga atau sekolah jika ia bersekolah, mampu bermain dan berkomunikasi bersama teman-teman, mampu bergantian atau antre, dll.

Perkembangan Emosional
Misalnya: Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, dan saudaranya; menunjukkan rasa empati; mengetahui simbol-simbol emosi: sedih, gembira, atau marah dan mampu mengontrol emosinya sesuai kondisi yang tepat.

Perkembangan Komunikasi (Berbahasa)

Misalnya: Mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata,mampu melafalkan kata-kata dengan jelas (bisa dimengerti oleh orang lain).

Begitu beragam model kurikulum yang ada. Mau pilih yang mana? Mengumpulkan sebanyak mungkin sumber dan memilahnya sesuai kekhasan keluarga masing-masing adalah cara paling baik agar kita memiliki bahan yang lebih kaya untuk anak-anak kita.



Sumber: http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/01/kurikulum-untuk-anak-usia-dini.html

SESUAIKAH TUMBUH KEMBANG ANAK ANDA

Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.

Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik / keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak.
Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan sampai anak berusia 2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui pemeriksaan fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur, lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya KMS (kartu menuju sehat ) yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis, laboratorium, dan analisa diet.
Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan anak :
1.Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis kelamin dan kelainan bawaan 2.Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.
3.Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma, sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.
Perkiraan berat badan yang dapat mudah dilakukan dalam kilogram adalah berat badan waktu lahir bayi cukup bulan akan kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4 kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.
Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan dalam sentimeter yaitu usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun 2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.

Sumber: http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=57

Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak

Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Pendapat ini kurang begitu tepat dan bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak :

1. Kesehatan

Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.

2. Intelligensi

Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.

3. Jenis kelamin

Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.

4. Lingkungan

Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.

5. Status sosial ekonomi

Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.

Pengaruh bermain bagi perkembangan anak :
- Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak
- Bermain dapat digunakan sebagai terapi
- Bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak
- Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak
- Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak
- Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak

Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan

Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.

2. Sandiwara

Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik

Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu

Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga

Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Permainan Pasif

1. Membaca

Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio

Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi

Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya.



Sumber: http://www.e-dukasi.net/artikel/index.php?id=27

Kamis, 23 April 2009

Homeschooling pada Anak Usia Dini

P
endidikan anak usia dini (PAUD) adalah sebuah fenomena yang sedang marak pada saat ini. Para orangtua berduyun-duyun memberikan pendidikan kepada anak sejak usia dini, bahkan sejak mereka masih bayi dan dalam kandungan.


Pada satu sisi, fenomena ini menunjukkan tingginya tingkat kepedulian orangtua atas pendidikan dan masa depan anak-anak. Stimulus sejak usia dini pada anak-anak merupakan sebuah hal yang positif untuk memicu perkembangan anak.

Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya.

Tetapi pada sisi lain, fenomena ini juga perlu dicermati. Terutama dalam aspek pertumbuhan anak yang menjadi subyek pendidikan. Jangan sampai anak berubah menjadi obyek yang dinilai dengan ukuran orang-orang dewasa. Demikian pun, materi yang dikembangkan untuk anak jangan sampai membuat anak justru kehilangan kesempatan untuk berkembang karena terlalu mendapat tekanan yang besar dalam perkembangan pada aspek tertentu, misalnya aspek kecerdasan kognitifnya.

Pada tahun 1970-an, fenomena orangtua yang mengirimkan anak ke sekolah formal sejak usia dini pernah diteliti oleh Dr. Raymond Moore dan isterinya, Dorothy Moore. Hasil penelitian yang dibukukan dalam "Better Late than Early" itu menyoroti tentang dampak buruk lepasnya keterikatan emosional anak dengan orangtua sejak usia dini. Menurut Moore, peran orangtua dan keluarga pada anak-anak usia dini sangat besar. Hubungan cinta dan ikatan emosional orangtua dengan anak tidak bisa digantikan oleh institusi formal apapun. Sekali kerusakan emosional itu terjadi pada anak, dampaknya bersifat jangka panjang dan tidak dapat diperbaiki.

Kehati-hatian juga diingatkan oleh Dewi Utama Faizah, pakar pendidikan anak usia dini dalam salah satu makalahnya "Anak-anak Karbitan". Dewi mengingatkan orangtua agar berhati-hati dan tidak terjebak pada kondisi "early ripe, early rot". Anak yang digegas berprestasi akademis pada usia dini, belum tentu akan melahirkan karya-karya besar dan sukses di masa depannya. Bisa jadi, pada usia dewasa anak tersebut mengalami kegagalan karena perkembangan emosionalnya tidak dapat digegas sebagaimana penggesan yang dilakukan terhadap perkembangan intelektualnya.

Dalam pendidikan anak usia dini, orangtua perlu berhati-hati agar tidak berasumsi bahwa prestasi akademik pada anak usia dini merupakan jaminan keberhasilan hidup anak-anak di usia dewasa. Asumsi ini dapat menjebak orangtua dengan program percepatan untuk memicu anak berprestasi akademis sejak usia dini dengan mengabaikan aspek perkembangan emosionalnya. Dewi mengutip kisah Edith (1952) yang terkenal jenius karena mendapat stimulus kognitif dari ibunya sejak janin.

Image

Pada usia 1 tahun Edith telah dapat berbicara dengan kalimat sempurna, usia 5 tahun Edith menyelesaikan bacaan ensiklopedi Britannica, usia 12 tahun dia masuk universitas, usia 15 tahun menjadi guru matematika di Michigan State University. Ibunya, Aaron Stem, berhasil menjadikan Edith anak jenius karena terkait dengan kapasitas otak yang sangat tak berhingga. Namun kabar Edith selanjutnya tidak terdengar lagi ketika ia dewasa.

Banyak kesuksesan yang diraih anak saat ia menjadi anak, tidak menjadi sesuatu yang bemakna dalam kehidupan anak ketika ia menjadi manusia dewasa. Hal itu dikontraskan dengan Albert Einstein yang sempat dianggap bebal pada masa kecilnya, tetapi kemudian melahirkan karya-karya besar pada usia dewasanya.

Dalam pandangan yang serupa, para praktisi yang menjalani homeschooling sejak anak usia dini menikmati proses bersama yang mereka lakukan bersama anak-anak. Tetapi, pada saat bersamaan mereka berhati-hati dan mencari keseimbangan antara stimulus kognitif dan dukungan untuk perkembangan emosional anak. Untuk membangun hubungan personal dengan anak, para praktisi homeschooling tak segan untuk melakukan penyesuaian dalam proses kehidupan pribadi mereka.

“Satu test untuk menguji kebenaran sebuah prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak-anak. (Maria Montessori, 1870-1952)”

Sementara itu, Dita Maulina, praktisi homeschooling yang juga mantan dosen psikologi, menyoroti mengenai aspek fun (keriangan) dalam proses pendidikan anak usia dini. Menurutnya, dunia anak adalah dunia bermain. Aspek bermain yang menyenangkan bagi anak harus mendapatkan tekanan utama dalam pendidikan anak usia dini. Selain aspek fun, kesiapan anak untuk belajar juga menjadi perhatian Ria Heraldi, praktisi homeschooling yang tinggal di Palembang.

Praktisi homeschooling lain, Dominika Arumdati, yang banyak belajar dari prinsip-prinsip pendidikan Montessori menekankan mengenai penciptaan kebiasaan-kebiasaan positif pada anak melalui aktivitas-aktivitas kesehariannya. Dengan belajar dari praktek dan memperbaiki sendiri kesalahan-kesalahan yang dilakukannya, anak terbangun kultur belajarnya yang akan berguna untuk kehidupannya saat dewasa nanti. Proses ini menjadi penyeimbang sekaligus penekanan yang lebih diutamakan daripada sekedar stimulus-stimulus yang hanya mendorong perkembangan kognitif anak.


Sumber: http://www.sekolahrumah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=548&Itemid=118&ed=25

Rabu, 22 April 2009

Kasih Sayang adalah Kebutuhan Dasar Anak

Tempat pertama anak belajar adalah keluarga, Baik tidaknya karakter anak ditentukan oleh keluarga. Setiap anak orang membutuhkan perhatian dan kasih sayang begitu juga dengan anak-anak kita. Kasih sayang adalah kebutuhan dasar anak. Banyak orang tua yang salah persepsi mengenai kasih sayang, sehingga anak dapat bertindak semaunya. Kasih sayang terhadap anak bukan berarti mebiarkan anak bertindak semaunya. Mengungkapkan kasih sayang yang baik dapat melalui:

  1. Sentuhan Positif
Yaitu segala sesuatu dari orang tua yang memberi dampak positif pada anak baik secara verbal maupun non verbal. Sentuhan positif verbal berupa ungkapan atau kata-kata yang diucapkan langsung orang tua kepada anaknya. Seperti mama dan papa sayang kamu, engkau buah hati mama papa, engkau adalah cinta kami dan lain-lain. Sedangkan sentuhan non verbal berupa bahasa tubuh yang mengekspresikan rasa sayang orang tua kepada anaknya, seperti pelukan hangat, belaian lembut.

2. Kepekaan terhadap Kebutuhan Anak
Yaitu kepekaan orang tua terhadap kebutuhhan fisik dan nonfisik sepertiorang tua mengetahui kapan anaknya lapar dan haus, kebutuhan pakainnya. Sedangkan kebutuhan non fisik, misalnya ketika mengetahui anak balitanya sedih, orang tua mendekatkannya untuk menanyakan apa yang dirasakan dan apa yang membuatnya sedih. Mengembangkan minat dan menggali bakat anak termasuk juga kepekaan terhadap kebutuhan non fisik anak.

3. Memiliki Waktu Bersama Anak
Yaitu waktu dimana orang tua bisa bersama dengan anak-anaknya. Termasuk waktu untuk mendampingi dan mengarahkannya, mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki anak, mulai dari kemampuan motorik kasar dan halusnya seperti memanjat, berjalan, berlari, mencoba makan sendiri, mengenakan baju sendiri dan sebagainya. Disamping orang tua menyediakan waktu untuk bercengkrama dan bermain bersama anak, bahkan orang tua sepenuhnya terlibat dalam aktivitas bermain yang memiliki tujuan tertentu. Misalnya bermain peran yang akan mengasah kemampuan anak bersosialisasi. Memberi perhatian dan kasih sayang terhadap kasus sesuai dengan porsi, tidak berlebihan dan tidak juga kekurangan. Ibarat vitamin bagi mental anak, pemberian cinta hendaknya sesuai dengan porsinya.


Tips Memberi Kasih Sayang Sesuai Porsi
  1. Memperhatikan Kepribadian Anak
Penyampaian bahasa cinta tidak dapat disamaratakan pada setiap anak karena mereka memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Maka dibutuhkan pengetian antara orang tua dan anak.

2. Melihat Kebutuhan Anak
Kebutuhan anak berbeda dari waktu ke waktu. Misalnya saat ia sakit, maka ia membutuhkan perhatian dan pelayanan lebih banyak disbanding saat sehat.

3. Memperhatikan Usia Anak
Pemberian kasih sayang akan berbeda saat anak masih balita dengan anak umur 8 tahun.


4. Menyeimbangkan Pemberian Hadiah dan Sanksi
Pemberian sanksi dilakukan saat anak memang berbuat salah dan pemberian hadiah jika anak memang pantas mendapatkannya.



Sumber: http://bunyan.co.id/new/?m=article&id=1229495104

Cara-Cara yang Efektif dalam Mengorganisasi dan Mengurutkan Proses Pembelajaran bagi Anak Usia Dini

Setiap anak memiliki fitrah Islam dan dipersiapkan untuk menjadi khalifah di muka bumi. Ingatlah ketikaTuhanmu berfirman kepada para malaikat: “ Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi... “ (Qs. Al-Baqarah : 30 ). Untuk itu anak harus diberi pendidikan agar dapat mempersiapkan dirinya, mempeljari, dan memanfaatkan sarana dan prasarana yang telah dianugrahkan Allah SWT kepadanya.

Memberikan pendidikan pada anak usia dini atau anak usia 0 - 8 tahun, telah menjadi perhatian para orang tua, ahli pendidikan, masyarakat dan pemerintah. Anak usia dini (AUD) merupakan kelompok yang berada dalam proses perkembangan unik. Karena proses perkembangannya (tumbuh dan kembang) terjadi bersamaan dengan golden age (masa peka). Golden age merupakan waktu paling tepat untuk memberikan bekal yang kuat kepada anak. Pada masa itu anak melakukan proses pertumbuhan dan perkembangan (koordinasi motorik kasar dan halus), daya pikir, daya cipta, bahasa dan komunikasi (Kecerdasan Jamak). Di masa peka, kecepatan pertumbuhan otak anak sangat tinggi hingga mencapai 50 persen dari keseluruhan perkembangan otak anak selama hidupnya. Artinya, golden age merupakan masa yang sangat tepat untuk menggali segala potensi kecerdasan anak sebanyaknya.

Piaget (Forman, 1983) menyarankan agar aspek kognitif, moral dan fisiologis dirangsang pengembangannya secara terpadu dalam aktivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam mengorganisiasi dan mengurutkan proses pembelajaran anak usia dini yang efektif, harus sesuai dengan perkembangannya yang diselaraskan dengan aspek ilahiyah.

Pertumbuhan dan perkembangan AUD perlu diarahkan pada peletakan (dasar yang tepat bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia seutuhnya. Dengan demikian anak dapat berkembang optimal. Sedangkan makna PAUD bukan semata agar anak dapat bersekolah lalu mendapatkan pendidikan dan pengetahuan, tetapi lebih luas dari itu. Anak menjadi tumbuh dan berkembang lebih sempurna bila mendapatkan pendidikan paripurna (komprehensif) antara kecerdasan spiritual, Intelektual dan emosional.

Untuk dapat memberikan pendidikan yang paripurna, berikut ini penjelasan yang dapat kami berikan berkenaan dengan cara-cara yang efektif dalam mengorganisasi dan mengurutkan proses pembelajaran bagi anak usia dini yang dianalisis melalui perkembanan anak pada rentang usia 0-3 tahun. Mudah-mudahan apa yang kami bahas dan kami sampaikan dapat memberikan gambaran kepada khalayak ramai yang peduli kepada tumbuh kembang anak melalui website Bunyan ini.

Aspek-aspek Perkembangan Fisiologis Anak Usia Dini 0 Sampai 3 Tahun

1. Perkembangan Otak dan susunan syaraf Pusat

Pada waktu dilahirkan, bayi hanya memiliki otak seberat 25% dari berat otak orang dewasa. Syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syaraf belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya dalam mengkontrof gerakan motorik. Artinya, bayi belum dapat melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan koordinasi sistem syaraf, seperti kegiatan motorik halus (fine motoric) maupun keterampilan motorik kasar (gross motoric). Oleh karena itu, aktivitas bayi bersifat pasif yakni memerlukan rangsangan (stimulasi) dari luar dan biasanya is selalu berada di seputar tempat tidurnya.

Kemudian Pada tahun pertama dan kedua setelah kelahiran, otak terus berkembang. Pada usia 3 – 4 tahun, berat otak anak telah mencapai 75% dari berat otak orang dewasa. Pada tahun berikutnya, berat otak anak mencapai 90% dari berat orang dewasa. Dan susunan syaraf pusat berkembang sejalan dengan perubahan berat otak tersebut. Perkembangan ini berjalan sampai usia 12 tahun.

Seiring dengan perkembangan fisik dan usia anak, syaraf-syaraf yang berfungsi mengontrol gerakan motorik mengalami proses neurological maturation (kematangan neurologic). Kematangan secara neurologic ini merupakan hal yang penting dan berpengaruh dalam mengontrol gerakan motoriknya.

2. Perkembangan tubuh

Perkembangan tubuh merupakan perkembangan yang berjalan sesuai dengan prinsip yang disebut cephalocaudal, yaitu prinsip perkembangan yang dimulai dari atas, yaitu kepala, dan berlanjut secara teratur ke bagian bawah tubuh. Contohnya ialah pada bagian wilayah atas kepala yaitu mata dan otak berkembang lebih pesat dibandingkan dengan bagian bawah seperti rahang.

Serta prinsip Proximodistal, yaitu urutan pertumbuhan di mana pertumbuhan dimulai pada bagian tengah tubuh lalu bergerak menuju kaki dan tangan. Contohnya ialah bahwa kematangan awal kendali otot diawali oleh batang tubuh dan lengan baru tangan dan jari

Pada usia dua bulan dalam kandungan, kepala bayi berukuran setengah dari seluruh ukuran tubuhnya. Pada waktu dilahirkan, kepala bayi berukuran seperempat dari seluruh ukuran tubuhnya. Selanjutnya, pada usia 2 – 5 tahun kepala anak hanya berukuran seperlima dari ukuran tubuhnya, dan pada usia 6 tahun kepala anak memiliki ukuran sepertujuh dari ukuran tubuhnya. Pada usia inilah anak telah memiliki proporsi tubuh yang akan mewamai proporsi tubuhnya di masa dewasa.

Secara normal, pertambahan tinggi badan selama masa kana-kanak hanya sebanyak 2,5 inchi setahun dan berat badan secara normal hanya bertambah 2,5 – 3,5 kilogram setahun.

3. Perkembangan Psikomotorik

Otak merupakan pusat syaraf yang berfungsi untuk melakukan koordinasi gerakan organ-organ fisik. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada awalnya, fungsi otak bayi belum mampu menjalankan gerakan sadar. Sebagian besar gerakan – gerakan dan aktivitas bayi dipengaruhi oleh sistem syaraf otonom yang bersifat reflektif artinya gerakan itu terjadi tanpa koordinasi syaraf pusat yang disadari. Berikut macam-macam gerakan refleks yang dilakukan bayi:

a. Refleks Permenen, yaitu gerakan-gerakan refleks yang muncul sejak bayi dan akan tetap ada selama individu tumbuh kembang – menjadi dewasa. Ada tujuh refleks permanen yaitu (1) kedipan mata, (2) pernapasan,(3) sentakan kaki, (4) gerakan biji mata, (5) batuk, (6) bersin, (7) menelan.

b. Refleks Sementera, yaitu gerakan refleks yang terjadi pada masa bayi dan akan hilang dengan sendirinya, beberapa bulan atau setahun sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Ada sembilan refleks sementara yaitu (1) babinski. (2) memegang, (3) moro, (4) mencari, (5) melangkah, (6) mengisap, (7) berenang, (8) dan tonick neck.

Tabel 1. Refleks Sementara Pada Bayi

Refleks

Srimulasi

Respon Bayi

Pola Perkembangan

Babinski

Telapak kaki diusap

Menyebarkan jari kaki, memutar-mutarkan kaki

Menghilang setelah 9 bulan-1 tahun

Memegang

Telapak tangan diusap

Memegang dengan kuat

Melemah setelah 3 bln dan menghilang setelah 1 tahun

Moro (mengejutkan)

Stimulasi tiba-tiba, seperti mendengar suara nyaring atau diturunkan

Kaget, melengkungkan punggung, melemparkan kepala ke belakang, merentangkan lengan dan kaki serta kemudian menutupkannya ke pusat tubuh

Menghilang setelah 3-4 bulan

Mencari

Leher atau pinggir mulut diusap

membalikkan kepala, membuka mulut, mulai mengisap

Menghilang setelah 3-4 bulan

Melangkah

Bayi diangkat dan diturunkan untuk menyentuh tanah

menggerakkan kaki seolah-olah berjalan

Menghilang setelah 3-4 bulan

Mengisap

Benda menyentuh mulut

respon bayi mengisap secara otomatis

Menghilang setelah 3-4 bulan

Berenang

bayi menaruh wajah ke bawah di dalam air

membuat gerakan-gerakan berenang yang terkoordinasi

Menghilang setelah 6-7 bulan

Leher di topang

bayi ditelentangkan,

mengepalkan tinju kedua tangan dan biasanya membalikkan kepala ke kanan

Menghilang setelah 2 bulan

Walaupun belum mampu melakukan gerakan koordinatif, namun gerakan refleks pada dasarnya memerlukan pemfungsian organ-organ fisik bayi. Organ –organ fisik yang digerakkan secara terus – menerus merupakan sarana pelatihan untuk memperkuat otot – otot, sehingga dapat dijadikan persiapan diri guna melakukan akiivitas yang lebih berkualitas. Pada dasarnya, Gerakan refleks merupakan dasar yang akan memacu perkembangan keterampilan motorik kasar maupun halus.

Implikasi Perkembangan Fisiologis dalam Proses Pembelajaran

1. Melakukan rangsangan – rangsangan positif yang dapat mengembangkan kecerdasan maupun keberbakatan anak sejak dini. Sifat stimulasi yang diberikan kepada anak sebaiknya yang bersifat menarik, menyenangkan, dan sederhana. misalnya: benda yang berwarna-warni, bentuknva lucu, dan indah,

2. Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri dan berjalan (gradasi tingkat kemampuan).

3. Mempelajari keterampilan menggunakan panca indera, seperti melihat atau mengamati, meraba.


Sumber: http://bunyan.co.id/new/?m=article&id=1237273747

Model Pembelajaran Kreatif Imajinatif Untuk Taman Kanak-kanak

Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang pertama kali ditemui anak setelah ia mempunyai kesempatan keluar dari lingkungannya yang pertama yaitu bersama orang tuanya di dalam keluarga. Sementara itu orang tua ingin mengembangkan semaksimalUntuk kepentingan ini, diperlukan adanya sarana pembelajaran (media) yang efektif, metode pembelajaran (metodologi) yang praktis dan pemberi pembelajaran (orang tua atau guru) yang inovatif.

Dalam sistem pendidikan di Taman Kanak-kanak digunakan kurikulum. Sangat disayangkan belakangan ini pelaksanaan dari kurikulum Taman Kanak-kanak sangat kaku, ditambahnya lagi adanya tren bahwa Taman Kanak-kanak yang baik adalah yang memiliki kegiatan kurikuler yang padat ditambah dengan kegiatan ekstrakurikuler yang juga padat. Betul bahwa kurikulum perlu dilaksanakan dan diperkaya, namun seharus nya dilakukan dengan meletakkan anak sebagai sentral dalam pendidikan itu sendiri, agar potensi dasar mereka yaitu kreativitas dan imajinasinya dapat berkembang dengan baik.

Suatu kenyataan bahwa sampai sekarang sarana pembelajaran di Taman Kanak-kanak belum ada yang memadai dalam arti menyangkut pengembangan potensi. Kalaupun ada, sarana tersebut merupakan bagian yang terpotong-potong atau sekedar alat peraga atau berupa lembar kegiatan anak yang semuanya berbentuk parsial. Padahal, anak dalam pengembangan potensinya yang meliputi pengembangan otak kiri dan otak kanan secara seimbang memerlukan sarana yang benar-benar dirancang dan ditampilkan secara efektif.

Sedangkan dengan metode pembelajaran yang selama ini berlaku, kreativitas anak sering diintervensi oleh para guru. Di Taman Kanak-kanak yang terutama dilatih adalah penerimaan pengetahuan, ingatan dan penalaran saja. Anak-anak pun menjadi robot. Padahal dengan kreativitas seorang naka dapat mewujudkan dirinya, dan perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia.

Selain itu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya yang selama ini tersisihkan dari pendidikan anak, yaitu muatan keagamaan (akidah, ibadah, muamalah) yang seharusnya terintegrasi dengan muatan kurikuler. Padahal, anak adalah calon penguasa bumi (khalifatullah fi ardh). Kasi ayat al-baqarah 30. Persipan ke arah itu sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Dengan tersisihnya pendidikan keagamaan itu, anak tidak memiliki landasan kuat dalam menghadapi perubahan dunia. Padahal Allah swt tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.

Pengembangan potensi dasar anak sangat perlu dilandasi dengan warna dan rasa agama agar pada akhirnya dapat ditampilkan pribadi-pribadi yang berakhlak mulia serta kreatif imajinatif ilahiah. Sosok pribadi yang berguna bagi dirinya maupun agama dan bangsa. Dengan demikian diperlukan adanya sarana yang mengembangkan kreativitas dan imajinasi serta penuh dengan nuansa agama yang masih belum kita temukan secara memadai.

Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif adalah model pembelajaran yang memberikan rangsangan secara seimbang antara otak kiri dan otak kanan sehingga potensi dasar anak terutama kreativitas dan imajinasinya dapat berkembang secara seimbang dengan memberikan sentuhan-sentuhan Islami pada kognisi, afeksi dan psikomotor anak. Rangsangan-rangsangan dan sentuhan tersebut disajikan dalam pembinaan akidah, ibadah dan muamalah yang disampaikan dengan cara yang mengasyikkan sehingga anak akan merasakan kenikmatan hidup beragama.

Sarana yang dipersiapkan bagi Model Sistem Pembelajaran Kreatif Imajinatif di TK disusun berdasarkan Kurikulum, psikologi perkembangan anak dan konsep pembelajaran kreatif imajinatif yang diintegrasikan dengan materi agama dan kemampuan dasar anak.

Sumber: http://bunyan.co.id/new/?m=article&id=1213837659


PAUD BERBASIS MASYARAKAT

Menurut Departemen Pendidikan Nasional Indonesia; Pendidikan anak usia dini atau disingkat PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan dengan memberi rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Dengan tujuan utama membentuk anak Indonesia yang berkualitas, maka PAUD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat serta pemangku kepentingan lainnya. Diperlukan kesadaran serta program terpadu yang melibatkan masyarakat dan pemerintah untuk menjadikan pelaksanaan PAUD sebagai gerakan nasional.

Santana (4 tahun 5 bulan) di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk anak yang beruntung karena orangtua dan keluarganya memperhatikan perkembangannya dan memiliki kesempatan memilih Kelompok Bermain sesuai dengan keinginannya. Dari tiga pilihan yang diajukan orangtuanya, Santana memilih sekolah dengan label tiga bahasa (Indonesia, Inggris, Mandarin). Mungkin pilihannya sesuai dengan keinginannya dan hal itu membuatnya nyaman dan membuat perkembangan fisik (motorik halus dan kasar), kecerdasan, serta sosio emosionalnya pesat sekali.

Dari anak pemalu di depan orang banyak, Santana menjadi berani tampil. Pada setiap kesempatan ulang tahun teman, acara publik seperti lomba mewarnai, bahkan pada acara rapat antara orangtua dan komite sekolahpun Santana selalu maju untuk menyanyi.

Pendidikan yang diperolehnya di kelompok bermain telah merangsang potensinya dalam berbagai hal. Saat ini Santana bahkan berani memutuskan untuk berlatih menyanyi di luar kelompok bermainnya.

Sebaliknya, sebagian besar anak-anak di daerah terpencil maupun kota dengan keterbatasan akses serta ekonomi orangtua, belum beruntung karena pendidikan usia dini yang mereka terima belum optimal. Di dalam keluarga, konsentrasi orangtua terfokus sebagai pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan primer sandang pangan.

Fakta di atas menunjukkan betapa pentingnya pendidikan anak usia dini di rumah dan kelompok bermain atau sekolah (TK/RA). Pendidikan tersebut akan menjadi pondasi bagi perkembangan anak baik akademis maupun non akademis di kemudian hari. Seberapa kokoh pondasi itu akan dibangun dan diletakkan sebagai dasar perkembangan anak ke masa depannya? Anak-anak di usia dini yang belum berdaya itu sangat mengandalkan peran orangtua, masyarakat, dan pemerintah.

Untuk mengatasi kesenjangan antra anak-anak yang beruntung dan anak-anak yang kurang beruntung, diperlukan kolaborasi antara masyarakat serta organisasi-organisasi yang ada dengan pemerintah. Katakanlah konsep ini sebagai Pendidikan Anak Usia Dini Berbasis Masyarakat. PAUD dapat dimasukkan ke beberapa program masyarakat yang sudah ada, misalnya lewat posyandu (pos pelayanan terpadu) dengan membentuk seksi pendidikan anak usia dini, juga dapat dimasukkan ke program PKK (pendidikan kesejahteraan keluarga). Alternatif lain jika dianggap posyandu dan PKK sudah syarat dengan beban rutin, adalah menjadikan PAUD bagian dari preventif Forum Penanganan Korban Kekerasan pada Perempuan dan Anak. Tidak mendapatkan hak yang layak diperoleh anak juga merupakan bagian kekerasan yang tersembunyi di dalam rumah tangga.

Salah satu program Kantor Pemberdayaan Perempuan DIY dan Bagian Kesra Pemerintah Kabupaten Sleman Sub Bagian Pemberdayaan Perempuan adalah penanganan kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga. Tentu saja pemerintah tidak bisa menangani jenis kekerasan ini dengan aparat kepolisian dan keamanannya saja, melainkan melalui forum yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, organisasi massa, dan instansi pemerintah lintas sektor. Di Sleman, forum itu telah terbentuk meskipun masih mencari bentuk dan mekanisme penanganan korban secara lebih terpadu.

Alangkah baiknya jika salah satu divisi pada forum diarahkan untuk menangani isu PAUD seperti melakukan sosialisasi pentingnya PAUD, memberikan solusi PAUD murah dan berbasis masyarakat, bahkan mencarikan donatur bagi anak yang belum tersentuh PAUD karena kondisi khusus.

Dengan dijadikannya PAUD sebagai gerakan seperti halnya gerakan pemerintah dan masyarakat mencegah dan menangani kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap anak/pekerja anak maka kita bisa berharap bahwa setiap anak di bumi tercinta ini adalah anak-anak yang beruntung karena memiliki pondasi dasar yang cukup kuat untuk menjalani kehidupannya di masa mendatang.


Sumber: http://re-searchengines.com/0607ekawati.html

Senin, 16 Maret 2009

IDENTIFIKASI ANAK DENGAN KEBUTUHAN KHUSUS

Tunanetra (anak yang mengalami gangguan penglihatan)

  1. Tidak mampu melihat,
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  7. Mata bergoyang terus.
  • Nilai standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.
  • Tunarungu (anak yang mengalami gangguan pendengaran)
  1. Tidak mampu mendengar,
  2. Terlambat perkembangan bahasa,
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
  5. Ucapan kata tidak jelas,
  6. Kualitas suara aneh/monoton,
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
  8. Banyak perhatian terhadap getaran,
  9. Keluar nanah dari kedua telinga,
  10. Terdapat kelainan organis telinga.
  • Nilai standarnya 7.
  • Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan
  1. Anggauta gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
  3. Terdapat bagian anggauta gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
  4. Terdapat cacat pada alat gerak,
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
  6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
  7. Hiperaktif/tidak dapat tenang.
  • Nilai standarnya 5.
  • Anak Berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa
  1. Membaca pada usia lebih muda,
  2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
  4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
  5. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
  6. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
  7. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
  8. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
  9. Dapat memberikan banyak gagasan,
  10. Luwes dalam berpikir,
  11. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
  12. Mempunyai pengamatan yang tajam,
  13. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap
  14. tugas atau bidang yang diminati,
  15. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
  16. Senang mencoba hal-hal baru,
  17. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
  18. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
  19. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
  20. Berperilaku terarah pada tujuan,
  21. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
  22. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
  23. Mempunyai daya ingat yang kuat,
  24. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
  25. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
  26. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
  • Nilai standarnya 18.
  • Tunagrahita
  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu
  2. kecil/besar,
  3. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  4. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
  5. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan
  6. (pandangan kosong),
  7. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  8. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).
  • Nilai standarnya 4.
  • Anak lamban belajar
  1. Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
  2. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan teman-teman seusianya,
  3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
  4. Pernah tidak naik kelas.
  • Nilai standarnya 3.
  • Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
  1. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
  2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
  3. Kalau membaca sering banyak kesalahan
  • Nilai standarnya 3.
  • Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
  1. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
  2. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
  3. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
  4. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
  5. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
  • Nilai standarnya 4.
  • Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
  1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
  3. Sering salah membilang dengan urut,
  4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
  • Nilai standarnya 4.
  • Anak yang mengalami gangguan komunikasi
  1. Sulit menangkap isi pembicaraan orang lain,
  2. Tidak lancar dalam berbicaraa/mengemukakan ide,
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
  4. Kalau berbicara sering gagap/gugup,
  5. Suaranya parau/aneh,
  6. Tidak fasih mengucapkan kata-kata tertentu/celat/cadel,
  7. Organ bicaranya tidak normal/sumbing.
  • Nilai standarnya 5.
  • Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku)
  1. Bersikap membangkang,
  2. Mudah terangsang emosinya,
  3. Sering melakukan tindakan aggresif,
  4. Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum
SUMBER:http://bintangbangsaku.com/artikel/

PELATIHAN GURU PAUD

Mudahkah mengajar PAUD? Hmm … mungkin ya dan mungkin tidak …

Kalau keberanian mengajar PAUD hanya dengan berbekal “Dulu aku diajarinnya begini” atau “Yang penting anak-anak bisa baca, tulis, dan hitung” atau “Ah, anak TK khan cuma main” …………. maka mengajar anak-anak usia dini memang sangat mudah …

Namun, jika kita mendalami benar-benar siapa dan bagaimana sih sebenarnya anak-anak usia dini itu, maka mendidik mereka tidaklah semudah membalik telapak tangan, tidaklah semembosankan menunggui anak-anak menuliskan suku kata “ba - ba - bi - be - bo” berulang-ulang di buku tulis mereka, tidaklah sesimpel mengajak mereka sekedar bernyanyi lagu “ABC” …

Saya masih ingat cita-cita adik saya sewaktu ia masih kecil, ingin jadi guru TK supaya bisa pulang jam 10 pagi, supaya tidak pusing karena mengajar anak TK khan gampang.

Pada kenyataannya, setelah saya 8 tahun bekecimpung di dunia pendidikan anak usia dini, apa yang dicita-citakan oleh adik saya itu sama sekali tidak terbukti.

Untuk menjadi seorang guru TK yang profesional, yang dituntut pemahamannya mengenai perkembangan anak, strategi pengoptimalan setiap tahap perkembangan anak, pemilihan instruksi yang tepat dan benar, komunikasi yang sederhana namun berbobot, manajemen kelas inklusi, observasi perkembangan anak, bahkan sampai pada koreografi, pulang jam 10 pagi bukanlah suatu pilihan, bahkan cenderung menjadi suatu kemewahan jika saya dan teman-teman di SBB berhasil pulang sebelum matahari terbenam …

Sekitar 5 tahun pertama sekolah ini berdiri, guru-guru SBB masih kalang kabut untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan profesionalitas sebagai guru dan wawasan mereka mengenai pendidikan anak usia dini. Tidak jarang guru-guru harus bekerja lebih dari 12 jam, bahkan ada beberapa waktu di mana hampir semua guru melewatkan malam-malam sahur bersama di sekolah, hanya untuk memastikan bahwa apa yang mereka sajikan pada anak-anak sudah sesuai dengan tahap perkembangan dan apa yang mereka laporkan pada orang tua sudah cermat serta terlepas dari pelabelan apapun.

Saat ini, setelah hampir semua guru dan staf dapat mendekati tingkat profesionalitas yang tinggi, sudah waktunya bagi mereka untuk memperluas wawasan mengenai pendidikan anak usia dini. Hampir semua karyawan di SBB sudah dapat menyisihkan waktu untuk kembali ke bangku kuliah. Ada yang mengambil program studi pendidikan anak usia dini, ada yang pendidikan luar biasa, dan ada juga yang kuliah komputer.

Ada yang kuliah dengan menggunakan fasilitas pinjaman dari Yayasan Bijak Bestari, tetapi ada juga yang kuliah dengan menggunakan tabungannya pribadi.

Nah … Mungkin tidak semua guru beruntung mendapat dukungan dari sekolah untuk kuliah … baik dari kelonggaran waktu bekerja maupun dari sumber dana …

Untuk itu, maka rekan-rekan di Yayasan Bijak Bestari berinisiatif untuk membentuk sebuah lembaga baru yang bertujuan untuk membantu rekan-rekan guru PAUD maupun lembaga-lembaga PAUD lain dalam mengembangkan wawasan dan keterampilan mereka dalam bidang Pendidikan Anak Usia Dini.

SCHEMA, yang semula lebih banyak bergerak di bidang konsultasi dan asesmen (psikotes), sekarang akan berubah format menjadi sebuah Pusat Asesmen dan Pengembangan Potensi.

Pusat Asesmen, artinya SCHEMA akan meneruskan kiprahnya dalam konsultasi, asesmen, maupun pendampingan anak-anak sekolah. Walaupun klien utamanya adalah siswa-siswa Bintang Bangsaku, namun kemudahan dan keringanan biaya juga dapat diperoleh oleh masyarakat umum. Dengan demikian, sebagai Pusat Asesmen, SCHEMA akan melayani masyarakat umum, baik itu lembaga pendidikan maupun orang tua, yang mengalami kesulitan dengan siswa atau anak-anaknya. Adapun jenis layanannya terdiri dari :

1. Psikotes : Tes Potensi Kecerdasan, Tes Minat dan Bakat, Tes Kesiapan Masuk Sekolah

2. Konseling Anak dan Rumah Tangga

3. Pendampingan Sekolah

Pusat Pengembangan Potensi, artinya SCHEMA akan mulai terjun ke bidang pelatihan bagi guru PAUD (0 - 8 tahun, atau sampai kelas 3 SD) walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa paket-paket pelatihan yang ditawarkan juga dapat diikuti oleh masyarakat umum pemerhati pendidikan anak usia dini maupun oleh orang tua yang memiliki anak-anak pada usia tersebut.

Pelatihan yang ditawarkan dibedakan berdasarkan kategori peserta, yaitu :

1. Pelatihan untuk Guru PAUD, yang terdiri dari :

* Pelatihan Pengembangan Kompetensi Guru PAUD

* Pelatihan Pembekalan Guru PAUD untuk Kelas Inklusi

2. Pelatihan untuk Calon Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (masyarakat umum, minimal SLTA)

* Pelatihan Pendamping Anak Usia Dini

* Pelatihan Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus dalam Kelas Inklusi

3. Pelatihan untuk Orang Tua

* Pelatihan Orang Tua Efektif

* Pelatihan Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus

Semoga keputusan Yayasan Bijak Bestari maupun rekan-rekan SCHEMA tidak menjadi sebuah kesia-siaan. Semoga keputusan ini dapat lebih meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini, baik yang normal maupun untuk anak-anak berkebutuhan khusus

SUMBER: http://bintangbangsaku.com/artikel/

Pentingnya Mendidik Anak Sejak Usia Dini

Setiap kali memasuki tahun ajaran baru, biasanya orangtua akan sibuk untuk mengurusi anak-anaknya mau sekolah dimana. Berbagai masukan berdatangan, mulai dari informasi lewat iklan, informasi lewat teman dan segala bentuk informasi lainnya. Orangtua pun kadang-kadang bingung untuk menentukan pilihan.

Bagi orangtua yang memiliki anak usia 1 sampai 6 tahun akan sibuk dengan urusan memikirkan sekolah ke Play Group dan Taman Kanak-kanak (TK). Untuk keluarga yang berkecukupan, masalah pemilihan sekolah akan dilakukan dengan selektif. Karena mereka sangat menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam menempa karakter dan bekal anak kelak ketika akan memasuki sekolah dasar (SD).

Masalahnya sekarang adalah, bagaimana dengan keluarga yang tidak mampu ? Pastilah mereka akan pusing untuk memikirkan sekolah anak-anak mereka. Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan.

Padahal, menurut UU No.20 Tahun 2003 Pasal 28 disebutkan, (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal; (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat; (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat; dan (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 Butir 14 UU No.20 Tahun 2003, PAUD itu sendiri merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik dan kecerdasan: daya pikir, daya cipta, emosi, spiritual, berbahasa/komunikasi, sosial.

Oleh masyarakat, PAUD diindentikkan pendidikan TK. Tentu pendapat ini kurang tepat mengingat pendidikan TK hanya dialami anak satu atau dua tahun. Itu pun jika anak sempat mengalami pendidikan TK. Mengingat batasan PAUD adalah usia anak sejak lahir hingga enam tahun, PAUD lebih banyak dilaksanakan keluarga. Dengan demikian, keluargalah yang paling bertanggung jawab pada PAUD.

Walau demikian, tentu peran masyarakat tempat anak itu tumbuh tidak sedikit. Jika budaya di suatu masyarakat (masa lalu) pernah kita dengar ada si tukang cerita atau pendongeng, hal ini merupakan PAUD yang sangat efektif dalam memberi berbagai kecerdasan kepada anak usia dini - pada masa itu. Sayang, sejak hadirnya TV budaya kegiatan masa tua seperti mendongeng sebelum anak tidur makin langka.

Lantas, apakah pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah berjalan dengan baik dan menjangkau semua sasaran? Jawabnya belum! Baik secara kuantitatif maupun kualitatif pendidikan anak usia dini di negara kita memang jauh dari memadai, apalagi membanggakan. Lebih daripada itu bahkan ada kesan bahwa PAUD kita selama ini memang terabaikan.

Menurut catatan United Nations Educational Scientific, and Cultural Organizations atau UNESCO, angka partisipasi pendidikan anak usia dini atau PAUD di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara-negara berpenghasilan rendah di Asia lainnya. Partisipasi PAUD di Indonesia hanya 22 persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding partisipasi PAUD di Filipina yang sebesar 27 persen, Vietnam 43 persen, Thailand 86 persen, dan Malaysia 89 persen.

PAUD TERABAIKAN

Secara kuantitas jumlah anak usia dini di Indonesia memang relatif sangat tinggi, namun demikian sebagian besar dari mereka itu belum terlayani pendidikannya. Dari sebanyak sekitar 13,5 juta anak usia 0 sampai dengan 3 tahun ternyata baru sekitar 2,5 juta atau 18,74 persen yang terlayani. Di sisi lain dari sekitar 12,6 juta anak usia 4 sampai 6 tahun ternyata baru sekitar 4,6 juta atau 36,54 persen yang terlayani pendidikannya. Jadi secara kuantitatif anak usia dini kita yang terlayani pendidikannya masih relatif sangat sedikit jumlahnya.

Bagaimana dengan kualitasnya? Kita semua tahu, dari TK, RA, KB, TPA, atau bentuk lain yang sederajat yang ada di Indonesia pada umumnya masih belum memperhatikan kualitas, atau setidak-tidaknya kualitas belum menjadi tujuan utama.

Kita hendaknya jujur dan objektif, kata Anggota DPD Asal Sumut Parlindungan Purba, SH, MM bahwa sampai saat ini masih banyak TK yang kembang-kempis karena rendahnya keinginan orang tua mendidikkan putra-putrinya di TK, tidak adanya guru yang representatif, terbatasnya tempat kegiatan, dan alasan lainnya.

Bagaimana dengan TPA? Tanpa menafikan yang sudah berjalan baik, penyelenggaraan TPA yang seadanya dengan kurang memperhatikan mutu masih sangat banyak terjadi di masyarakat. Sama halnya dengan KB? KB yang baik dan menjadi idola masih sangat terbatas jumlah dan jenisnya, bisa dihitung dengan jari. Untuk ukuran kota besar, dimana kesibukan kedua orangtua telah menjadikan TPA dan KB sebagai tempat untuk belajar anak.

"Terkait kualitas pendidikan kita yang rendah dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain pada umumnya, akar permasalahan sesungguhnya ada pada terabaikannya PAUD selama ini," tandas Parlindungan.

Dukungan pemerintah dalam menyediakan akses dan layanan PAUD di Indonesia pun masih rendah. Anggaran pendidikan yang diarahkan untuk anak usia dini masih terbatas. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara di Asia lainnya yang relatif lebih tinggi. Malaysia, Filipina, dan Thailand anggaran pendidikan usia dininya rata-rata telah di atas 10 persen.

Pengembangan pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia, lanjut Parlindungan harus dilakukan dengan pendidikan yang lebih sistemik. Untuk menuju ke arah sana, diperlukan dukungan kebijakan dan investasi dari pemerintah.

Dalam sebuah kesempatan, Direktur PAUD Direktorat Jenderal Pendidilan Luar Sekolah (Ditjen PLS) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Gutama mengakui bahwa angka partisipasi PAUD di Indonesia rendah.

Padahal, PAUD tidak dapat dipandang sebelah mata, karena usia tersebut merupakan "masa emas" di mana perkembangan otak anak sangat cepat. Sehingga, harus ada upaya pendidikan memadai pada masa itu.

PERAN KELUARGA

Masih banyak kendala yang dihadapi dalam meningkatkan paritipasi PAUD di Indonesia, lanjut Gutama. Pasalnya, banyak orang tua yang belum memahami pentingnya PAUD. Selain itu, PAUD belum menjadi "pendidikan wajib" sebab belum adanya anggaran khusus untuk sektor pendidikan tersebut.

Kendala lainnya adalah tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi belum tersedia serta belum semua daerah punya petugas yang menangani PAUD. Untuk hal ini, Ditjen PLS bakal melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya PAUD dan mendorong terselenggaranya sebuah lembaga PAUD non-formal.

Ditjen PLS telah memiliki target untuk meningkatkan peran serta orang tua agar mengikutsertakan anak dalam PAUD. Tahun 2006, kata Gutama, ditargetkan mampu mencapai 12,5 dari 11,9 juta anak. Kemudian tahun 2007 sebanyak 18 dari 12 juta anak, 2008 dari 12,2 juta anak ditarget 26 serta tahun 2009 mendatang targetnya 35 dari 12,4 juta anak.

Mengingat pentingnya PAUD, pemerintah pusat maupun daerah sudah sepantasnya memberi perhatian lebih serius terhadap permasalahan ini. Sudah waktunya pula sebagian dana pendidikan itu diarahkan pada pengadaan sarana dan prasarana untuk kelangsungan PAUD di daerah masing-masing.

Seperti dikemukakan di atas, PAUD merupakan upaya pembinaan anak sejak lahir sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Tujuannya agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut.

Untuk itu, seperti disampaikan Direktur Jenderal PLS, Ace Suryadi, keluarga merupakan sarana pendidikan pertama dan utama untuk mendidik anak. Prinsip PAUD melalui keluarga adalah bentuk pendidikan nonformal yang dapat mendorong kesiapan anak dalam proses belajar di usia sekolah.

Konsep dasar dirintisnya PAUD berbasis keluarga karena banyak orangtua yang belum memperoleh kesempatan untuk mengirimkan anaknya ke PAUD, seperti Taman Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak dan sejenisnya.

Saat ini, PAUD berbasis keluarga masih dalah proses pengembangan konsep. Keluarga diharapkan mempunyai kemampuan mengembangkan prinsip-prinsip mendidik anak yang baik dan benar. Lebih lanjut, Ace menilai PAUD dipercaya dapat memacu peningkatan mutu pendidikan jangka panjang. Semakin banyak anak yang dilayani PAUD, semakin banyak anak yang memiliki kesiapan belajar. Jadi, pada usia sekolah, anak siap untuk mencapai kompetensi yang lebih besar, baik akademik maupun nonakademik

SUMBER: http://japarde.multiply.com/journal/item/45